Orang-orang jahiliyah baik yang lama maupun yang modern, selalu berusaha untuk menimbulkan keraguan mengenai wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong. Keraguan demikian itu lemah sekali dan tidak dapat diterima. Mereka mengira bahwa Quran berasal dari pribadi Muhammad SAW, dengan menciptakan maknanya dan dia sendiri pula yang menyusun bentuk dan gaya bahasanya.
Mereka menganggap Quran bukan wahyu. Inilah sangkaan yang batil dan rapuh. Apabila Rasululloh menghendaki kekuasaan untuk dirinya sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat- mukjizat untuk mendukung kekuasaannya, maka tidak perlu ia menisbahkan semua itu kepada pihak lain.
Dapat saja menisbahkan Quran itu kepada dirinya sendiri, karena hal itu cukup untuk mengangkat kedudukannya dan menjadikan manusia tunduk kepada kekuasaannya, sebab dalam kenyataannya semua orang arab dengan segala kefasihan dan kepandaiannya dalam berretorika nyatanya tidak mampu juga menjawab tantangan itu (membuat kitab yang serupa dengan Quran). Bahkan mungkin ini lebih mendorong mereka untuk menerima kekuasaannya, karena dia juga salah seorang dari mereka yang dapat mendatangkan apa yang tidak mereka sanggupi.
Juga tidak dapat dikatakan bahwa dengan menisbahkan Quran kepada wahyu ilahi, ia mengingingkan untuk menjadikan kata-katanya terhormat sehingga dengan itu ia dapat memperoleh sambutan manusia untuk menaati dan menuruti perintah-peritahnya, sebab dia juga mengeluarkan kata-kata yang dinisbahkan kepada dirinya pribadi, yaitu yang dinamakan hadis nabawi yang juga wajib ditaati. Seandainya benar apa yang mereka tuduhkan, tentu kata-katanya itu akan dijadikannya sebagai kalam Allah taala.
Sangkaan ini menggambarkan bahwa Rasulullah SAW termasuk pemimpin yang menempuh cara- cara berdusta dan palsu untuk mencapai tujuan. Sangkaan ini ditolak oleh kenyataan sejarah tentang perilaku Rasulullah SAW, kejujuran dan keterpercayaannya yang terkenal, yang telah disaksikan oleh musuh-musuhnya sebelum disaksikan oleh kawan-kawannya sendiri.
Orang-orang munafik menuduh istrinya, Aisyah, dengan tuduhan berita bohong padahal Aisyah seorang istri yang sangat dicintainya. Tuduhan yang demikian itu menyinggung kehormatan dan kemuliaannya. Sedang wahyu pun datang terlambat, Rasululloh dan para sahabatnya merasa sangat sedih. Beliau berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk meneliti dan memusyawarahkannya. Dan satu bulan pun telah berlalu, akan tetapi ia hanya dapat mengatakan kepadanya, kepada Aisyah : “Telah sampai kepadaku berita yang begini dan begitu. Apabila engkau benar-benar bersih, maka Alllah akan membersihkanmu. Dan apabila engkau telah berbuat dosa, mohon ampunlah engkau kepada Allah.”
Keadaan berlangsung secara demikian sehingga turunlah wahyu yang menyatakan kebersihan istrinya itu. Maka apakah yang menghalangi untuk mengatakan kata-kata yang dapat mematahkan para penuduh itu dan melindungi kehormatannya, seandainya Quran itu adalah kata-katanya sendiri. Tapi ia tidak mau berdusta kepada manusia dan tidak mau berdusta kepada Allah. Disebutkan dalam Surat Al Haqqoh ayat 44-47 :
Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami (44) tentulah Kami pegang dia pada tangan kanannya (45) Kemudian kami potong urat tali jantungnya (46) Maka sekali-kali tidak dapat seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi Kami dari pemotongan urat nadi itu (47)




Ada segolongan orang meminta izin untuk tidak ikut berperang di Tabuk. Mereka mengajukan alasan, diantara mereka terdapat orang-orang munafik yang yang sengaja mencari-cari alasan. Dan Nabi pun mengizinkan mereka. Maka turunlah wahyu Quran mencela dan mempersalahkan tindakannya itu. Wahyu yang dimaksud itu bisa dilihat dalam Surat At Taubah ayat 43 :
Semoga Allah memaafkanmu, mengapa engkau memberi ijin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu alasan mereka) dan sebelum engkau ketahui mana yang benar dan mana yang dusta (43).

Seandainya teguran itu datang dari perasaannya sendiri dengan menyatakan penyesalannya ketika ternyata pendapatnya itu salah, tentulah teguran yang begitu keras tidak akan diungkapkannya. Begitu pula teguran kepadanya karena ia menerima tebusan tawanan perang Badar, seperti ditegaskan dalam Surat Al Anfal ayat 67-68 :
Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki pahala akhirat untukmu. Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana (67) Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, tentulah kamu akan ditimpa siksan yang besar karena tebusan yang kamu ambil (68)


Begitu juga adanya teguran karena berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, karena menekuni salah seorang pembesar untuk diajak masuk islam. Disebutkan dalam Surat Abasa ayat 1- 11 :
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling (1), karena telah datang seorang buta kepadanya (2) Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya dari dosa (3) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? (4) Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (5), maka kamu melayaninya (6). Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri, beriman (7). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera untuk mendapatkan pengajaran (8), sedang ia takut kepada Allah (9) maka kamu mengabaikannya (10). Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan (11)











Yang dikenal dalam perikehidupan Rasulullah SAW adalah bahwa dia sejak kecil merupakan teladan yang khas dalam hal budi pekerti yang baik, perilaku yang mulia, ucapan yang benar dan kejujuran dalam kata dan perbuatan. Masyarakatnya sendiri pun telah menyaksikan semua itu ketika ia mengajak mereka pada permulaan berdakwah. Perikehidupannya yang suci itu menjadi daya tarik bagi manusia untuk masuk islam.
Orang-orang jahiliyah dahulu dan sekarang menyangka bahwa, Rasulullah memiliki ketajaman otak, kedalaman penglihatan, kekutan firasat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa, dan renungan yang benar yang menjadikannya memahami ukuran-ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melalui ilham, serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf, sehingga Quran itu tidak lain daripada hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang diungkapkannya dengan gaya bahasa dan retorikanya.
Segi berita yang merupakan bagian terbesar dari Quran tidak diragukan oleh orang yang berakal bahwa apa yang diterimanya hanya didasarkan kepada penerimaan dan pengajaran. Quran telah menyebutkan berita-berita umat yang terdahulu, golongan-golongan dan peristiwa-peristiwa sejarah dengan kejadian yang benar dan cermat, seperti layaknya disaksikan oleh saksi mata, sekalipun masa yang dilalui oleh sejarah itu sudah amat jauh, bahkan sampai pada kejadian pertama alam semesta ini.
Hal demikian tentu tidak memberikan tempat bagi penggunaan pikiran dan kecermatan firasat. Sedang Muhammad sendiri tidak semasa dengan umat-umat dan peristiwa-peristiwa di atas dengan segala macam kurun waktunya, sehingga beliau mampu menyaksikan kejadian-kejadian itu dan menyampaikan beritanya. Demikian pula beliau tidak mewarisi kitab-kitabnya untuk dipelajari secara terperinci dan kemudian menyampaikan beritanya, seperti ditegaskan dalam Surat Al Qoshosh ayat 44-45 :
Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat, lembah Tuwa, ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan (44) Tetapi Kami telah mengadakan beberapa generasi, dan berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan tiadalah kamu tinggal bersama-sama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul (45)


Dan diantaranya ialah berita-berita yang cermat mengenai angka-angka hitungan yang tidak diketahui kecuali oleh orang terpelajar yang sudah sangat luas pengetahuannya. Di dalam kisah Nabi Nuh diceritakan dalam Surat Al Ankabut ayat 14 :
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim (14).

Hitungan itu menurut ahli kitab adalah 300 tahun matahari. Lalu dari manakah Muhammad memperoleh angka-angka itu, kalau bukan dari Allah yang mewartakannya. Orang-orang jahiliyah lama telah pintar menentang Muhammad daripada orang-orang jahiliyah modern. Sebab orang jahiliyah lama itu tidak mengatakan bahwa Muhammad mendapat berita itu dari kesadaran dirinya seperti dikatakan orang jahiliyah modern, tetapi mereka mengatakan bahwa Muhammad mempelajari berita itu dan kemudian dituliskan, disebutkan dalam Surat Al Furqon ayat 5 :
Dan mereka berkata : dongengan-dongengan orang terdahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka bacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang (5).

Muhammad tidak menerima pelajaran dari seorang guru pun, jadi dari manakah berita-berita itu datang kepadanya secara seketika, di kala usianya mencapai 40 tahun? Itulah mengenai segi berita dalam Al Quran. Disebutkan dalam Surat An Najm ayat 4 :
Apa yang diucapkannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (4)

Adapun ilmu-ilmu lain yang ada di dalamnya, bagian ikatan saja mengandung perkara-perkara yang sangat terinci tentang permulaan mahluk dan kesudahannya, kehidupan akhirat dan apa yang didalamnya seperti surga dengan segala kenikmatannya, neraka dengan segala adzabnya dan lainnya, seperti malaikat dengan segala sifat dan pekerjaannya. Pengetahuan ini semuannya tidaklah memberikan tempat bagi kecerdasan akal dan kekuatan firasat semata.
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya… (Surat Al Mudatsir ayat 31)

oleh : Kohar J