Perlunya Al Quran Diturunkan

Sewaktu Al Quran diturunkan pada empat belas abad yang lalu, di dunia sudah terdapat banyak agama dan banyak kitab yang dianggap suci oleh pengikut-pengikutnya. Di sekitar negara Arab terdapatlah orang-orang yang percaya kepada kitab perjanjian lama dan kitab berjanjian baru. Banyak orang-orang Arab yang menjadi Nasrani atau condong ke arah agama Nasrani. Di antara orang-orang Arab itu ada juga yang memeluk agama Yahudi. Di antara mereka yang memeluk agama Yahudi adalah penduduk Madinah sendiri, seperti Ka’ab bin Asyraf seorang kepala suku di Madinah dan musuh Islam. Di Mekah sendiri di samping budak-budak yang beragama Nasrani terdapat juga orang-orang Mekah yang condong kepada agama Nasrani. Waraqah bin Naufal paman dari Khadijah, isteri pertama Nabi Muhammad s.a.w. juga memeluk agama Nasrani. Ia faham bahasa Ibrani dan memerjemahkan Kitab Injil dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab.

Di sebelah ujung lain negeri Arab, hiduplah orang-orang Persia yang juga mempercayai seorang nabi dan sebuah kitab suci. Sekalipun kitab zend avesta telah mengalami perubahan-perubahan oleh tangan manusia, tetapi kitab itu masih dianggap suci oleh beratus ribu pengikutnya dan suatu negeri yang kuat menjadi pendukungnya. Adapun di India maka kitab Weda dipandang suci beribu-ribu tahun lamanya. Di situ ada juga kitab Gita dari Shri Krisna dan ajaran Buddha. Agama Kong Hu Cu menguasai negeri Tiongkok, tetapi pengaruh Buddha makin hari makin meluas di negeri itu.

Dengan adanya kitab-kitab yang dipandang suci oleh pengikut-pengikutnya dan ajaran-ajaran itu, apakah dunia ini memerlukan Kitab Suci yang lain lagi? Inilah sebenarnya satu pertanyaan yang ada pada setiap orang yang mempelajari Al Qur’an. Jawabannya bisa diberikan dalam beberapa bentuk.

PERTAMA. apakah adanya berbagai agama itu tidak menjadi alasan yang cukup untuk datangnya agama yang baru lagi untuk semua?

KEDUA. apakah akal manusia itu tidak mengalami proses evolusi sebagaimana badannya” Dan karena evolusi fisik itu akhirnya mencapai bentuk yang sempurna, apakah evolusi mental dan rohani itu dak menuju ke arah kesempurnaan yang terakhir, yang sebenarnya merupakan tujuan daripada adanya manusia itu?

KETIGA. apakah agama-agama yang dulu itu dianggap ajaran-ajaran yang dibawanya itu ajaran-ajaran terakhir? Apakah mereka udak mengharapkan perkembangan kerohanian yang terus menerus? Apakah mereka tidak selalu memberitahukan kepada pengikut-pengikutnya tentang akan datangnya utusan terakhir yang akan menyatukan seluruh umat manusia dan membawa mereka kearah tujuan yang terakhir?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah merupakan jawaban yang mengharuskan supaya Al Quran diturunkan, sekalipun sudah ada kitab-kitab yang dianggap suci oleh umat-umat yang dahulu.

Di bawah ini akan dicoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu satu demi satu.

PERTANYAAN PERTAMA : Bukankah perbedaan antara agama yang satu dengan lainnya itu sudah cukup menjadi alasan akan perlu datangnya ajaran yang baru lagi. sebagai agama terakhir?

a). Nabi Isa a.s. diutus untuk sesuatu kaum tertentu,

Dalam Al Quran surat (3) Ali Imran, ayat 49 dinyatakan:

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil”

A049

Hal ini dibuktikan juga oleh ayat-ayat dalam injil:

Maka kata Daud kepada Abigail : Segala puji bagi Tuhan, Allah orang israil, sebab disuruhkannya engkau mendapatkan aku pada hari ini (I Samuel 25:32)

Dan lagi titah baginda demikian: Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, yang mengaruniakan pada hari ini seorang yang duduk di atas takhta kerajaanku, sehingga mataku sendiri telah melihatnya. (II Raja-raja 1:48).

Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, daripada kekal datang kepada kekal Maka hendaklah segenap orang banyak mengatakan. Amin Segala puji bagi Tuhan! (1Kitab Tawareh 16:26).

Maka kata baginda : Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, yang telah berfirman dengan mulutnya kepada ayahku Daud, dan yang sudah menyampaikan dia dengan tangannya, firmannya. (1 Kitab Tawareh 6:4).

Yesus juga menganggap dirinya sebagai nabi untuk Bani Israil. Apabila ada orang lain mendekati dia maka ia mengusirnya. Dalam Matius XV: 21-26, orang dapat membaca:

Maka Yesus keluarlah dari sana, serta berangkat ke jajahan Tsur dan Sidon. Maka adalah seorang perempuan Kanani datang dari jajahan itu, serta bertertak, katanya: Ya Tuhan, ya anak Daud, kasihanilah hamba: karena anak hamba yang perempuan dirasuk setan terlalu sangat. Tetapi sepatah katapun tiada dijawab oleh Yesus kepada perempuan itu. Maka datanglah muridnya meminta kepadanya, serta berkata: Suruhlah perempuan itu pergi, karena ia berteriak-teriak di belakang kita. Maka jawab Yesus, katanya: Tidaklah aku disuruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani lsrail. Maka datanglah perempuan itu sujud menyembah dia, katanya: Ya Tuhan, tolonglah hamba! Tetapi jawab Yesus, katanya: Tiada patut diambil roh dari anak-anak, lalu menyampaikan kepada anjing.

b). Kitab Weda adalah Kitab untuk sesuatu golongan,

Di antara pengikut-pengikut Weda, maka membaca kitab Weda itu menjadi hak yang khusus bagi kasta yang tinggi saja. Demikianlah, maka Gotama Risyi berkata:

Apabila orang Sudra kebetulan mendengarkan kitab Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengecor cor-coran timah dan malam dalam kupingnya, apabila seorang Sudra membaca mantra-mantra Weda maka raja harus memotong lidahnya, dan apabila ia berasaha untuk membaca Weda, maka saja harus memotong badannya. (Gotama Smarti: 12).

Agama Kong Hu Cu dan agama Zorosster adalah juga agama-agama Nasional. Kedua agama itu tidak berusaha untuk mengajarkan ajaran-ajarannya ke seluruh dunia, juga mereka tidak berusaha untuk mengembangkannya dalam daerah yang luas. Orang Hindu menganggap negeri India sebagai negeri pilihan bagi Tuhannya, demikian juga agama Kong Hu Cu menganggap negeri Tiongkok satu-satunya kerajaan Tuhan. Dalam hal ini, ada dua jalan untuk menyelesaikan pertentangan antara satu agama dengan lainnya itu, yaitu bahwa orang harus percaya bahwa Tuhan itu banyak, atau Tuhan itu Esa. Dan kalau orang percaya bahwa Tuhan itu Esa, maka orang harus mengganti agama yang berbeda-beda itu dengan ajaran yang bisa meliputi seluruhnya.

c). Tuhan adalah Esa.

Dunia kini telah maju. Orang tidak perlu berusaha untuk membuktikan bahwa apabila dunia ini mempunyai pencipta, maka Ia harus Pencipta Yang Esa. Tuhan dari orang-orang Israil, Tuhan dari orang-orang Hindu, Tuhan dari negeri Tiongkok dan Tuhan dari negeri Iran adalah tidak berbeda. Juga Tuhan dari negeri Arab, Afganistan dan Eropa adalah tidak berlainan. Juga Tuhan dari orang-orang Mongol dan Tuhan orang-orang Semit adalah tidak berbeda. Tuhan adalah Esa, dan hukum yang mengatur dunia ini juga satu hukum, dan sistim yang menghubungkan satu bagian dari dunia ini dengan lainnya adalah juga satu sistim. Ilmu pengetahuan memberikan keyakinan, bahwa semua perubahan-perubahan alami dan mekanis di mana saja, adalah pernyataan hukum yang sama. Dunia ini hanya mempunyai satu prinsip : ialah gerak, sebagaimana pernyataan ahli-ahli filsafat materialis, Atau dunia ini hanya mempunyai satu pencipta. Apabila demikian halnya, Maka pernyataan seperti Tuhan pada orang-orang Israil, Tuhan orang-orang Arab, Tuhan orang-orang Hindu adalah tidak berarti sama sekali. Tetapi apabila Tuhan itu satu, mengapa dunia ini mempunyai banyak agama? Apakah agama-agama itu hasil Pemikiran otak manusia? Apakah karena itu, maka tiap-tiap bangsa dan tiap-tiap kelompok umat manusia menyembah Tuhannya sendiri? Apabila agama-agama itu bukan merupakan hasil pemikiran manusia, mengapa ada perbedaan antara satu agama dengan agama lain? Apabila dulu ada alasan tentang adanya perbedaan ini, apakah dewasa ini masih tepat bahwa perbedaan-perbedaan itu terus berlangsung?

d). Agama adalah bukan hasil pemikiran umat manusia.

Persoalan apakah agama itu merupakan hasil pemikiran manusia, maka jawabnya sudah barang tentu, ialah bahwa ia bukan hasil pemikiran manusia, dan sebabnya adalah banyak. Agama-agama yang merata di dunia ini mempunyai ciri-ciri yang khas:

Pertama, menurut ukuran yang biasa, maka pembawa agama adalah orang orang biasa. Mereka tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang tinggi. Sungguhpun demikian, mereka berani memberikan ajaran, baik kepada orang-orang besar maupun orang-orang kecil, dan dalam waktu yang tertentu mereka dengan pengikut-pengikutnya meningkat dari kedudukan yang rendah sampai kepada kedudukan yang tinggi.  Ini membuktikan bahwa mereka itu dibantu oleh Kekuasaan Yang Maha Agung.

Kedua, semua pembawa agama itu, adalah orang-orang yang sejak sebelum jadi Nabi dihargai dan dinilai tinggi oleh masyarakatnya karena ketinggian budi pekertinya, sekalipun oleh orang-orang yang kemudian hari menjadi musuhnya, setelah mereka itu menyatakan tentang kenabiannya. Oleh karena itu, tidak masuk akal sama sekali, bahwa mereka yang tidak pernah dusta terhadap manusia, dengan serta merta berdusata terhadap Tuhannya. Pengakuan yang universil tentang kesucian dari kehidupannya, sebelum mereka itu menyiarkan agama yang mereka bawa, adalah suatu bukti tentang kebenaran pengakuan mereka. Al Quran telah menekankan hal ini dengan menyatakan:

Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak akan membacakannya kepadamu dan tidak (pula) Allah memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Apakah kamu tidak memikarkannya?”  Surat (10) Yunus ayat 16

A016

Ayat ini berarti, bahwa Nabi Muhammad s.a.w. menyatakan kepada mereka bahwa ia telah lama hidup bersama-sama dengan mereka, dan mereka mempunyai kesempatan yang cukup panjang untuk mengamat-amati dia. Juga mereka telah menjadi saksi tentang kejujurannya. Maka bagaimanakah mereka dapat berkata bahwa Nabi Muhammad s.a.w. pada waktu itu berani berdusta terhadap Tuhannya!

Demikian juga Al Quran menyatakan, Surat (3) Ali Imran ayat 164

 “Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yeng beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri. Ia membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka berada dalam kesesatan yang nyata”.

A164

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsa kamu sendiri, besar terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan kebahagiaan)mu. terhadap orang orang mu’ min ia amat pengasih lagi penyayang” Surat (9) At Taubah ayat 128

A128

Ini berarti, bahwa Rasul yang diturunkan kepada mereka itu adalah salah seorang di antara mereka, yang mereka tahu benar tentang kemurnian moralnya dan kebaikan budi pekertinya.

Tentang Nabi-nabi lainpun Al Our’an juga menyatakan demikian, bahwa para rasul itu adalah dari antara mereka sendiri. Oleh karena itu adalah mustahil bahwa mereka tidak mengerti tentang Nabi-nabi mereka sendiri. Demikianlah, maka Al Qur’an menyatakan:

Lalu Kami kirim kepada mereka scorang Rasul dari antara mereka (yang berkata): “Sembahlah Allah: tidak ada bagi kamu Tuhan selain daripadaNya, Mengapakah kamu tidak bertakwa?” (Surat (23) Al Mu’minuun ayat 32).

A032

Dan (ingatlah), suatu hari (yang di hari itu) Kami bangkitkan dari tiap-tiap ummat, seorang saksi: kemudian tidak akan diizinkan kepada orang-orang yang kafir (mengemukakan suatu alasan), dan tidak dibolehkan (pula) mereka meminta maaf. Surat (16) An Nahl ayat 84

A084

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad, saudara mereka Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya. Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?  Surat (7) Al A’raf ayat 65

A065

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina dari Allah ini menjadi tanda bagimu. Karena itu biarlah dia agar dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, nanti kamu ditimpa siksaan yang pedih”, (Surat (7) Al A’raaf ayat 73).

A073

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka Syu’aib as berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Kerena itu sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Tuhan) memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika benar-benar kamu orang-orang yang beriman”. (Surat (7) Al A’raaf ayat 85).

A0

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Nabi-nabi Hud, Shaleh, Syu’aib dan nabi-nabi yang lain-lain, adalah bukan orang-orang yang tidak diketahui oleh masyarakatnya masing-masing. Mereka tahu benar tentang kehidupan yang dialami oleh para nabi-nabi itu, baik sebelum, maupun setelah menerima wahyu, bahwa mereka adalah orang-orang jujur, bertakwa dan saleh. Oleh karena itu maka tidaklah masuk akal bahwa mereka dengan serta merta berusaha untuk menipu kaumnya.

Ketiga, bahwa pembawa agama itu tidak mempunyai kekuasaan dan alat-alat yang pada umumnya dapat dikatakan menjamin suksesnya pimpinannya. Umumnya mereka sedikit sekali mengetahui tentang seni atau kebudayaan masanya. Sungguhpun demikian, apa yang mereka ajarkan adalah sesuatu yang lebih maju dari pada apa yang ada dalam masa itu, tidak sama dengan apa yang berlaku pada masanya. Dengan mengambil ajaran-ajarannya itu, maka manusia akan sampai kepada peradaban dan kebudayaan yang tinggi dan sanggup mempertahankan kebesarannya itu untuk berabad-abad lamanya.

Hanya pembawa-pembawa agama yang benar sajalah yang dapat berbuat demikian itu. Oleh karena itu adalah mustahil bahwa orang yang tidak mengerti sama sekali tentang peradaban, kemajuan yang terdapat pada waktunya, setelah berbuat dusta terhadap Tuhannya, akan mempunyai kekuatan yang luar biasa, hingga ajaran-ajarannya itu dapat mengalahkan ajaran-ajaran yang ada pada waktu itu. Kemenangan yang sedemikian itu adalah mustahil dengan tidak ada nya bantuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Keempat, apabila diperhatikan ajaran-ajaran yang dibawa oleh pembawa-pembawa agama itu, maka dapat diketahui bahwa ajaran-ajaran itu selalu bertentangan dengan pikiran-pikiran yang bidup pada waktu itu. Apabila ajarannya itu sama dengan pikiran-pikiran yang hidup di dalam waktunya, maka hal itu dapat dikatakan bahwa ajaran mereka itu adalah merupakan pernyataan saja dari pada pikiran-pikiran yang ada pada waktu itu. Sebaliknya apa yang mereka ajarkan adalah sangat berlainan dengan alam pikiran yang ada dalam waktunya. Pertentangan yang sengit itu timbul, menjadikan daerah tempat penyiaran agama itu seolah-olah menjadi terbakar. Sungguhpun demikian, mereka yang menentang ajaran-ajaran itu akhirnya tunduk. Ini membuktikan bahwa pembawa-pembawa agama bukanlah orang-orang yang tidak memenuhi kehendak masanya, tetapi mereka adalah Nabi-nabi dan Rasul-rasul, dalam arti sebagaimana mereka sendiri mengakuinya.

Dalam zaman Musa as, alangkah anehnya ajaran yang ia bawa, ialah tentang keessan Tuhan, di waktu dunia diliputi oleh Polytheisme. Sewaktu Nabi Isa yang dilahirkan dalam dunia yang materialistis daripada orang-orang Yahudi dan yang sangat terpengaruh oleh kemewahan Romawi, maka alangkah anehnya ajaran yang dibawanya, yang menekankan kepada kejiwaan. Alangkah sumbangnya ajaran yang ia bawa untuk memberikan ampunan kepada orang-orang zalim yang telah menganiaya rakyat yang sekian lamanya hidup di bawah tirani serdadu-serdadu Romawi, yang sudah sekian lamanya pula mengharapkan dapat hak untuk menuntut kebenaran. Nabi Muhammad s.a.w. di negeri Arab mengajar orang-orang yang telah mendengarkan ajaran-ajaran Yahudi dan Nasrani. Alangkah ganjilnya bagi mereka yang percaya, bahwa sebenarnya tidak ada ajaran yang benar di luar ajaran mereka sendiri. Dan ia mengajar kepada orang-orang kafir Mekah, bahwa Tuhan adalah Esa, dan bahwa semua manusia itu sama. Alangkah ganjilnya ajaran itu bagi masyarakat yang percaya bahwa bangsanya adalah golongan yang paling tinggi. Untuk mengajar penyembah-penyembah berhala, peminum minum-minuman keras dan penjudi-penjudi ulung tentang jeleknya perbuatan mereka, untuk mengeritik hampir semua dan apa saja yang mereka percayai atau mereka perbuat, untuk memberikan kepada mereka ajaran yang baru, lalu mendapatkan sukses, adalah merupakan suatu hal yang mustahil. Itu adalah seperti usaha berenang melawan banjir dengan kekuatan yang luar biasa. Itu adalah di luar kemampuan manusia.

Kelima, pendiri-pendiri dari agama-agama itu semua menunjukkan tanda tanda bukti dan mu’jizat-mu’jizat. Setiap orang dari mereka, menerangkan sejak permulaan, bahwa ajarannya itu akan berhasil dan bahwa mereka yang berusaha untuk menghancurkan itu, akan hancur sendiri. Padahal mereka tidak mempunyai kekuatan-kekuatan lahir. Ditambah lagi bahwa ajaran-ajaran mereka itu bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan menimbulkan pertentangan yang luar biasa. Sungguhpun demikian mereka berhasil dan apa yang mereka katakan itu benar-benar terjadi. Mengapa kata-kata mereka itu terbukti dan janji-janjinya itu bisa terlaksana? Memang selain nabi ada juga jenderal-jenderal dan diktator-diktator yang mendapatkan sukses para nabi itu. sukses yang dikatakan terlebih dahulu, yang disandarkan kepada Tuhan sejak daripada permulaannya. sukses yang menjadi taruhan dari seluruh kehormatannya dan yang dapat dicapai sekalipun adanya oposisi yang luar biasa. Orang seperti Napoleon, Hitler dan Jenghiz Khan, dapat mencapai tingkatan yang tinggi dari kedudukan yang rendah. Tetapi mereka tidaklah berbuat sesuatu yang bertentangan dengan alam pikiran pada waktunya. Juga mereka tidak mengatakan bahwa Tuhan telah menjanjikan mereka kemenangan, sekalipun ada tantangan yang bagaimanapun. Juga mereka tidak harus berhadapan dengan oposisi yang besar dari orang-orang yang sezaman dengan mereka. Tetapi apabila mereka kalah, maka sebenarnya mereka tidak kehilangan apa-apa, Mereka masih dianggap besar dan tinggi oleh rakyatnya dan tidak takut apa-apa. Hal yang demikian itu adalah sangat berbeda dengan Nabi Musa as  Nabi ‘Isa a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w.

Memang, mereka tidak gagal, Tetapi andaikata mereka itu gagal mereka akan kehilangan segala-galanya. Mereka tidak akan dibangga-banggakan oleh masyarakatnya, tetapi mereka akan dimaki-maki sebagai nabi-nabi palsu dan pembohong-pembohong. Sejarah tidak akan menghargai sedikitpun kepada mereka dan hinaan dan cercaan selama-lamanya adalah sebagai pembalasan bagi mereka. Di antara mereka dan orang-orang seperti Napoleon atau Hitler terdapatlah perbedaan yang jauh sekali sebagaimana juga terdapat perbedaan antara sukses-sukses kedua golongan itu. Sebenarnya tidaklah banyak orang yang menghargai kepada Napoleon, Hitler atau Jenghiz Khan itu. Memang ada juga orang orang yang menganggap mereka itu pahlawan dan kagum akan perbuatan-perbuatannya, akan tetapi apakah mereka itu dapat memperoleh ketaatan dan ketundukan yang sebenarnya? Ketaatan dan ketundukan hanya diberikan kepada pembawa-pembawa agama seperti Musa as, Isa as, dan Nabi Muhammad saw, Juga kepada Krishna, Zoroaster dan Buddha bagi orang-orang yang menganggap mereka sebagai Nabi, Berjuta-juta umat manusia yang rela menjalankan apa yang diperintahkan oleh pembawa-pembawa agama itu dan berjuta-juta pula orang yang rela meninggalkan apa yang dilarang oleh mareka itu. Fikiran mereka yang sekecil-kecilnya, perbuatan-perbuatan dan kata-kata mereka adalah didasarkan kepada apa yang diajarkan oleh Nabi-nabi mereka.

e). Mengapa hukum-hukum dari agama agama itu berbeda?

Inilah sebenarnya yang menjadi pertanyaan! Apabila Nabi-nabi itu semuanya dari Tuhan, mengapa ajaran-ajaran mereka itu berbeda-beda satu sama lainnya? Apakah Tuhan mengajarkan soal-soal yang berbeda-beda pula? Orang biasa sajapun akan berusaha untuk tetap kepada apa yang diajarkannya dalam waktu dan tempat yang berbeda-beda. Jawaban pertanyaan ini ialah bahwa bila keadaan itu tetap sebagaimana biasa, maka adalah tidak perlu dikeluarkan petunjuk yang berbeda-beda. Tetapi sewaktu keadaan itu sudah berubah, adalah suatu kebijaksanaan bahwa ajaran itu harus berbeda. Pada masa Adam as. umat manusia itu hidup dalam satu tempat, oleh karena itu maka ajaran yang coraknya satu itu telah mencukupinya. Hingga zaman Nabi Nuh as. umat manusia itu hidup dalam tempat-tempat yang terpencil. Setelah Nuh as. inilah, maka umat manusia itu merata di pelbagai dunia ini. Tetapi pengaruh ajaran Nuh a.s. ini mulai berkurang. Maka datanglah Rasul-rasul yang lain, dan pengaruh mereka berangsur-angsur berkurang pula dan tiap-tiap Rasul itu diutus untuk kaumnya masing-masing dan untuk masa tertentu.

Inilah yang menyebabkan adanya perbedaan hukum-hukum antara satu agama dengan lainnya, terutama lagi karena akal manusia belum benar-benar berkembang. Karena kecerdasan umat manusia belum berkembang, maka untuk tiap negeri dikirim utusan yang sesuai dengan perkembangan pikiran yang ada pada waktu itu.

Sewaktu umat manusia itu sudah maju, dan makin banyak negeri yang ditempati, dan jarak antara satu negeri dengan lainnya menjadi tidak berarti lagi dan alat-alat komunikasi menjadi lebih baik, maka fikiran orang mulai menghargai akan perlunya ajaran yang universil yang mencukupi untuk mengurus perikehidupan seluruh umat manusia ini. Dengan perantaraan saling hubungan antara satu kelompok umat manusia dengan lainnya, maka orang mulai memahami tentang kesatuan umat manusia dan hanya Pencipta dan Zat Yang Esa yang mengatur mereka. Di Jazirah Arab Tuhan membangkitkan utusan-Nya yang terakhir untuk umat manusia, dan itulah Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa risalahnya itu dimulai dengan menyeru manusia kepada keesaan Tuhan, yang menguasai alam semesta. Ajarannya itu menyatakan tentang Tuhan yang berhak disembah, yang memberikan petunjuk kepada semua golongan umat manusia di semua negeri dan tidak ditujukan kepada sesuatu negeri tertentu atau sesuatu golongan umat manusia tertentu saja. Oleh karena itu Nabi Muhammad s.a.w. adalah yang diutus untuk seluruh umat manusia dan ajarannya adalah universil. Nabi yang membawa risalah itu dapat dikatakan Adam kedua. Sebagaimana pada Adam yang pertama hanya ada satu macam risalah dan satu macam golongan umat manusia, maka di dalam waktu Adam yang kedua, Dunia menjadi satu lagi, dengan satu macam risalah dan satu macam umat manusia. Oleh karena itu apabila dunia ini diciptakan oleh Tuhan Yang Esa, dan apabila Tuhan itu juga memelihara semua umat manusia di negeri mana saja dan di waktu kapan saja, maka adalah merupakan suatu keharusan, bahwa akhirnya kelompok-kelompok manusia yang berbeda-beda itu dengan tradisi-tradisi yang berbeda-beda pula, bersatu dalam satu ikatan kepercayaan dan pandangan hidup. Andaikata Al Qur’an tidak diturunkan, maka tujuan kerohanian tentang penciptaan manusia itu akan lenyap.

Kenyataannya umat manusia dewasa ini terbagi atas pelbagai agama. Dari keadaan ini dapat diibaratkan sebagai sebuah sungai yang mempunyai beberapa anak sungai, tetapi akhirnya menjadi satu sungai yang besar dan mengalir ke dalam laut dan di situlah kebagusan dan kemegahannya kelihatan.

Risalah yang dibawa oleh Musa as, Isa as, dan lain-lain Nabi ke pelbagai dunia ini adalah laksana anak-anak sungai mengalir menuju ke satu aliran sungai besar dan menuju ke samudra raya. Memang semua risalah yang dibawa oleh Nabi-nabi itu, baik. Tetapi adalah suatu keharusan bahwa sungai-sungai itu harus mengalir ke satu tujuan, ialah samudra raya, dan membuktikan tentang keesaan Tuhan dan mengajarkan satu tujuan agung yang penghabisan yaitu agama Islam, yang untuk tujuan itu manusia diciptakan,  Apabila Al Qur’an tidak membawa ajaran ini, maka ajaran dari Nabi manakah yang akan menerangkan? Sudah barang tentu bukanlah kitab Injil, karena Injil hanya membicarakan soal Tuhan anak cucu Israil. Juga sudah barang tentu bukan ajaran Isa as karena Isa a.s. sendiri adalah bukan seorang Nabi untuk seluruh umat manusia. Ia sendiri menyatakan:

“Janganlah kamu sangkakan Aku datang hendak merombak hukum Torat atau Kitab nabi nabi: bukannya Aku datang hendak merombak, melainkan hendak menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sehingga langit dan bumi lenyap, satu noktah atau satu titikpun sekali-kali tiada akan lenyap daripada hukum Torat itu sampai semuanya telah jadi”. (Matius 5:17, 18)

Apa yang diajarkan oleh Musa a.s dan Nabi-nabi yang dulu itu sudah jelas. Memang penyiar-penyiar agama Kristen pergi ke seluruh dunia untuk menyiarkan ajaran Isa as, tetapi ‘Isa a.s. sendiri tidak mempunyai maksud yang demikian itu.

Persoalannya adalah bukan apa yang dicoba untuk dikerjakan oleh penyiar-penyiar Kristen. Tetapi persoalannya adalah apa yang dimaksud oleh ‘Isa as. sendiri. Apa yang sebenarnya dimaksud oleh Tuhan dalam mengutus Isa as. ini! Tentang hal ini rasanya tidak ada orang yang lebih patut memberi keterangan selain ‘Isa as sendiri, dan dengan jelas ia menyatakan:

Maka jawab Yesus, katanya: tidaklah aku disuruhkan kepada yang lain, hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani Israil. (Matius 15 : 24).

Oleh karena itulah, maka jelas bahwa ajaran ‘Isa a.s. itu hanya untuk Bani Israil dan bukan untuk lainnya.

Para rasul-rasulpun menganggap tidak betul mengajarkan Injil kepada orang-orang yang bukan Bani Israil. Demikian maka orang membaca:

Maka sekalian orang yang berpecah-belah oleh sebab aniaya yang berbangkit karena Stepanus itupun mengembarsiah sampai ke Feniki dan Kiperun dan Antiochia, tetapi tiada memberitakan firman itu kepada seorangpun kecuali kepada orang Yahudi. (kisah rasul-rasul 11 : 19)

Demikianlah juga sewaktu para rasul-rasul ‘Isa as mendengar Petrus di suatu tempat mengajarkan Injil kepada orang-orang bukan Bani Israil, maka mereka marah:

Setelah Petrus tiba di Yeruzalem, maka orang yang menurut adat bersunat itupun berbantah-bantahan dengan dia. Sambil berkata: Engkau sudah pergi kepada orang yang tiada bersunat, serta makan bersama-sama dengan mereka itu. (kisah rasul-rasul 11 : 2. 3)

Juga bukan kitab yang dibawa oleh Zoroaster, karena kitab itu mengajarkan bahwa petunjuk Tuhan itu hanya diberikan kepada bangsa Iran belaka. Juga bukan oleh kitab Weda, karena para Rishi mengajarkan keharusan adanya hukuman menuangkan timah yang mendidih ke dalam telinga orang-orang sudra, penduduk India asli, yang berani mendengarkan bacaan kitab Weda, Juga bukan Buddha, karena sekalipun kepercayaan tentang Buddha itu tersiar ke negeri Tiongkok setelah Buddha meninggal, tetapi ajaran Buddha itu sendiri tidak pernah melintasi daerah perbatasan India.

Oleh karena itu memang sebelum datangnya Nabi Muhammad s.a.w, tidak ada seorang Nabipun yang diutus kepada seluruh umat manusia dan sebelum Al Our’an, tidak ada sebuah kitab sucipun yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Hanya Nabi Muhammad s.aw. yang menerangkan:

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, Tidak ada Tuhan selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat Nya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (Surat (7) Al A’raaf ayat 158).

A158

Dengan ini jelaslah bahwa tujuan diturunkannya Al Our’an itu adalah untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan itu dan untuk menghapuskan perbedaan antara satu agama dengan agama lainnya dan antara sekelompok umat manusia dengan kelompok umat manusia lainnya. Perbedaan itu tidak bisa dicegah karena terbatasnya ajaran-ajaran Nabi-nabi yang dulu. Apabila Al Quran tidak di turunkan, maka perbedaan itu akan berlangsung. Dunia tidak akan mengenal Sang Pencipta Yang Esa dan juga tidak dapat memahami bahwa penciptaannya itu mempunyai tujuan yang agung. Perbedaan antara agama-agama sebelum kedatangan Islam itu merupakan suatu keharusan dan bukan penghalang akan kedatangan seorang Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw.

PERTANYAAN YANG KEDUA: Apakah pikiran manusia Itu tidak mengalami proses evolusi yang akhirnya sempai kepada tingkat kesempurnaan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, orang harus ingat bahwa sewaktu orang mempelajari peradaban dan kebudayaan pelbagai negeri, maka orang akan mendapatkan bahwa dalam beberapa periode, peradaban sesuatu negeri itu demikian maju, hingga kalau tidak memperhitungkan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh mesin dalam abad modern ini, maka kemajuan-kemajuan yang diperoleh dalam zaman-zaman yang lalu dari sejarah umat manusia itu rupa-rupanya tidak demikian berbeda dengan kemajuan-kemujuan yang dicapai dalam waktu kita sekarang ini.

Perlu diterangkan di sini bahwa “peradaban” adalah suatu konsep yang murni materialistik. Apabila kemajuan materi tercapai, maka terdapatlah kenikmatan dalam hidup ini. Kenikmatan dalam hidup ini merupakan peradaban. Tetapi “kebudayaan” adalah lain dari peradaban. Menurut pertimbangan yang wajar hubungan antara kebudayaan dengan peradaban, adalah seperti hubungan antara ‘jiwa” manusia dengan “tubuh”nya Perbedaan-perbedaan dalam peradaban adalah perbedaan-perbedaan dalam kemajuan materi, tetapi perbedaan-perbedaan kebudayaan, disebabkan karena perbedaan kemajuan rohani. Kebudayaan sesuatu golongan dapatlah dikatakan terdiri dari ide-ide yang tumbuh di bawah pengaruh ajaran-ajaran agama. Ajaran-ajaran agama itulah yang memberikan dasar kebudayaan.

Dalam sesuatu waktu peradaban dan kebudayaan kadang-kadang terpisah, kadang-kadang tidak. Bisa juga sesuatu bangsa pada sesuatu zaman mencapai peradaban yang tinggi, tetapi tidak mencapai kebudayaan yang besar. Kadang kadang sebaliknya, sesuatu negeri mencapai kebudayaan yang tinggi, tetapi peradabannya tidak. Romawi dalam zaman kebesarannya adalah pemilik peradaban yang besar, tetapi tidak mempunyai kebudayaan yang tinggi. Pada waktu abad-abad pertama dari agama Nasrani, maka agama Nasrani itu tidak memberikan peradaban kepada dunia, tetapi memberikan kebudayaan yang sangat tinggi. Kebudayaan itu ke luar dari pandangan hidup tertentu dan oleh karena itu mempunyai ciri-ciri yang tersendiri pula. Orang-orang Nasrani pada abad-abad pertama, Kegiatan mereka itu berurat berakar pada prinsip-prinsip tertentu, kehidupan mereka itu ditentukan oleh batas-batas tertentu pula. Prinsip-prinsip dan batas-batas itu ditentukan oleh ajaran agama mereka. Sebaliknya prinsip-prinsip dan batas-batas yang membimbing alam pikiran Romawi, adalah karena dorongan- dorongan yang materialisik. Pendeknya dunia Romawi dalam zaman kebesarannya adalah contoh yang baik sekali tentang peradaban besar dan agama Nasrani yang pertama-tama adalah merupakan contoh kebudayaan yang tinggi. Kemudian di Romawi itu peradaban dan kebudayaan campur menjadi satu. Sewaktu Romawi menjadi Nasrani maka ia mempunyai kebudayaan dan peradaban, tetapi peradabannya itu kalah dengan kebudayaannya. Dewasa ini Eropa memiliki kebudayaan dan peradaban, tetapi karena desakan konsepsi-konsepsi yang materialistik, maka kebudayaannya menjadi terdesak oleh peradabannya.

Peradaban dan kebudayaan yang timbul sebelum datangnya Islam adalah tidak universil dalam konsepsinya. Pada agama Yahudi sudah barang tentu ada usaha untuk menghimpun peradaban dan kebudayaan itu. Dalam perjanjian lama, dalam banyak tempat ide-ide sosial itu disatukan dengan konsep-konsep materil, dan kedua-duanya itu berpusat di sekitar agama. Tetapi usaha perjanjian lama itu bisa digambarkan sebagai usaha yang pertama dan bukanlah usaha yang penghabisan. Demikian juga ajaran-ajaran Hindu dan Zoroaster. Seribu satu persoalan hidup rupa-rupanya memerlukan ideologi dan sistim pemikiran yang cukup elastik untuk dipergunakan sebagai petunjuk bagi pelbagai persoalan itu dalam waktu kapan dan di tempat mana saja. Ideologi yang sedemikian itu tidak dapat diberikan oleh agama-agama yang lalu.

Nabi Musa as memberikan kepada Bani Israil agama dan peradaban tetapi ajaran-ajarannya itu hanya untuk Bani Israil yang hidup pada masa itu dan tidak untuk seluruh umat manusia.

Setelah Bani Israil mulai berfikir menurut fikiran-fikiran baru dan mulai mempunyai ide-ide yang baru pula, maka ajaran Musa as mulai kelihatan tidak sanggup untuk mencukupinya. Ajaran itu tidak sanggup untuk mencetak manusia-manusia utama dari generasi baru Bani Israil, Memang mereka masih mengaku juga mengikuti ajaran-ajaran Nabi Musa a.s. tetapi mereka itu sebenarnya telah menyimpang dari ajaran itu. Isa as dengan ajarannya tidak sesuai dengan sebagian ajaran-ajaran Musa as yang sempit itu, karena itu ia membawa beberapa perobahan. Dengan ini dapat dipahami bahwa sewaktu Musa as. itu mengikat pengikut-pengikutnya dengan ajaran yang sangat sempit, maka Isa as membebaskan orang dari sebagian ajaran-ajaran yang tidak sesuai lagi itu.

Demikian pula ajaran-ajaran Nabi Isa as. karena beliau hanya diutus untuk sesuatu kaum saja, maka ajaran-ajarannya itu tidak mencukupi lagi untuk menampung keperluan-keperluan yang beraneka ragam daripada kegiatan umat manusia, Dalam keadaan yang demikian, maka dengan melintasi pelbagai tingkatan, Maka agama-agama yang ada sebelum Islam itu, tidak sanggup untuk melintasi batas-batas bangsa, zaman dan waktu. Proses dan tingkatan peradaban dan kebudayaan itu menunjukkan bahwa kedua-duanya juga mengalami kemajuan. Kebudayaan umat manusia dan peradabannya harus sampai kepada kesempumaan yang stabil dan pertimbuhannya itu harus mendapat bimbingan dari ajaran-ajaran agama. Agama-agama sebelum Islam tidak sanggup lagi untuk memberikan bimbingan itu. Dan ini menunjukkan perlunya Al Our’an diturunkan, yang akan memberi petunjuk kepada seluk-beluk tingkah laku umat manusia dengan pelbagai macam ragamnya, sesuai dengan kebudayaan umat manusia.

PERTANYAAN YANG KETIGA ialah: Bukankah agama-agama yang dulu itu mengajarkan tentang adanya kemajuan kerohanian yang akhirnya akan sampai kepada ajaran yang universil untuk seluruh umat manusia?

Memang kitab-kitab suci yang dulu itu menjanjikan tentang akan datangnya seorang Nabi yang paling sempurna. Nabi itu adalah keturunan dari Nabi Ibrahim as. Kabar gembira yang diberikan kepada Nabi Ibrahim, bahwa dari keturunannya itu akan lahir seorang Nabi yang sempuma dapat dibaca di antara lain dalam kitab Kejadian 12 : 2. 3: 13 : 15, 16 : 10-12 dan masih banyak lagi. Adapun nubuwat bahwa kedatangan seorang Nabi yang paling besar itu dari Nabi Ismail as orang dapat membaca dalam kitab Kejadian 21 : 13.

Maka anak sahayamu itupun akan kujadikan watu bangsa, karena iapun daripada benihmu.

Demikian juga dalam Kejadian 21 : 13.

Bangunlah engkau, angkatiah budak itu, sokonglah dia, kerena Aku hendak menjadikan dia satu bangsa yang besar.

Juga dalam kitab Kejadian 17 : 20.

Maka akan hal Ismail itupun telah kululuskan permintaanmu: bahwa sesungguhnya Aku telah memberkati akan dia dan membiarkan dia dan memperbanyakkan dia amat sangat dan dua belas orang raja raja akan berpencar daripadanya dan Aku akan menjadikan dia satu bangsa yang besar.

Sudah barang tentu yang dimaksud tidak lain adalah Nabi Muhammad. Adapun nubuwat-nubuwat lain ialah umpamanya nubuwat Nabi Habakuk yang menyatakan (Habakuk 3 : 3):

Bahwa Allah datang dari Teman dan yang maha suci dari pegunungan Paran-Selah. Maka kemulyaannya menudungilah segala langit dan bumipun odalah penuh dengan pujinya.

Di sini diterangkan tentang Teman dan orang yang suci dari pegunungan Paran (Arab – Faron), dan yang dimaksud ini tidak lain adalah Nabi Muhammad saw.

Demikian juga nabi Musa as. dalam kitab ulangan 18 : 17-22 telah menyatakan kedatangan Nabi Muhammad saw  itu:

Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku (Musa). Benarlah kata mereka itu (Bani Israil), Bahwa Aku (Allah) akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya (yaitu dari Bani Ismsil) yang seperti engkau (hai Musa), dan Aku akan memberi segala firman-Ku dalam mulutnya dan diapun akan mengatakan kepadanya segala yang Kusuruh akan dia. Bahwa sesungguhnya barang siapa yang tiada mau dengar akan segala firman Ku, yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu. Tetapi adapun yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan nama-Ku, yang tiada Kusuruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, orang nabi itu akan mati dibunuh hukumnya, Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian: Dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya Bahwa jikalau nabi itu berkata demi nama Tuhan lalu orang dikatakannya tiada jadi atau tiada datang, yaitulah perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, Maka nabi itupun telah berkata dengan sombongnya, janganlah kamu takut akan dia.

Dalam enam ayat Taurat di atas ada beberapa isyarat yang menjadi dalil untuk menyatakan Nubuwat Nabi Muhammad S.A.W. itu

“Seorang Nabi dari antara segala saudaranya”

Hal ini menunjukkan bahwa orang yang dinubuwatkan oleh Tuhan itu akan timbul dari saudara-saudara Bani Israil, tetapi bukan dari Bani Israil sendiri. Adapun saudara-saudara Bani Israil itu ialah Bani Ismail (Bangsa Arab), sebab Ismail adalah saudara tua dari Ishak, bapak dari Israil (Ya’kub). Dan Nabi Muhammad s.a.w. sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail.

Kemudian kalimat yang seperti engkau, memberikan arti bahwa Nabi yang akan datang itu haruslah seperti Nabi Musa as, maksudnya Nabi yang membawa agama baru seperti Nabi Musa as. Dan seperti diketahui Nabi Muhammad itulah satu-satunya Nabi yang membawa syari’at baru (agama Islam) yang juga berlaku untuk bangsa Israil.

Kemudian diterangkan lagi, bahwa Nabi itu tidak sombong tidak akan mati dibunuh. Muhammad saw. seperti dimaklumi, bukanlah orang yang sombong, baik sebelum jadi Nabi, apalagi sesudah jadi Nabi. Sebelum jadi Nabi beliau sudah disenangi umum terbukti dengan gelarnya ”Al Amin” artinya orang yang dipercayai. Kalau beliau sombong tentulah beliau tidak akan diberi gelar yang amat terpuji itu. Sesudah jadi Nabi beliau itu tambah ramah.

Umat Nasrani menyesuaikan nubuwat itu kepada Nabi Isa a.s di samping mereka mengakui pula bahwa Isa a.s. sungguh mati terbunuh (karena disalib). Hal ini jelas bertentangan dengan ayat nubuwat itu sendiri. Sebab Nabi itu haruslah tidak mati terbunuh (tersalib atau lainnya).

Itulah beberapa nubuwat tentang kedatangan Nabi Muhammad saw. Sebenarnya masih ada lagi beberapa nubuwat yang diberikan oleh Nabi Yesaya 42 :1.4, Nabi Yermia 31 : 31, 32, Nabi Daniel 2 : 3845 dan beberapa lagi yang untuk menghindari terlalu panjang tidak perlu disebutkan di sini.

Itulah nubuwat-nubuwat yang diberikan Nabi-nabi sebelum kedatangan Muhammad saw. Ini semua, membawa makin kuatnya akan keharusan datangnya Al Quran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

oleh :

Muqadimah Al Quran Departemen Agama RI, 1971

Dewan Penterjemah  

Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al Quran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: